Pembangunan Gedung KDMP Semambang Makmur Rampung
MUKOMUKO – RADAR BUMI RAFLESIA NEWS.Com — Pembangunan Gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Semambang Makmur, Kecamatan Malin Deman, Kabupaten Mukomuko, telah rampung dan tampak berdiri kokoh di tengah desa.
Namun, di balik selesainya pembangunan gedung tersebut, muncul persoalan yang dikeluhkan sejumlah pekerja lokal. Mereka mengaku hingga kini belum menerima pembayaran upah atas pekerjaan yang telah mereka selesaikan.
Arifin, warga Desa Semambang Makmur yang dipercaya sebagai kepala tukang dalam pembangunan Gedung KDMP tersebut, mengatakan pekerjaan sudah selesai. Namun, menurut pengakuannya, upah para pekerja hingga saat ini belum dibayarkan oleh pihak kontraktor yang mengambil pekerjaan secara borongan.
“Kami sudah selesai mengerjakan pembangunan ini, tetapi sampai sekarang upah belum dibayarkan oleh kontraktor,” ujar Arifin kepada awak media, Selasa (29/9/2026).
Menurut Arifin, kondisi tersebut membuat dirinya merasa tidak enak kepada para pekerja yang sebelumnya diajak untuk ikut mengerjakan proyek tersebut. Sebagai kepala tukang, ia mengaku kesulitan memenuhi kewajibannya kepada anggota kelompok pekerja karena pembayaran dari pihak kontraktor belum diterima.
“Kami juga sudah malu dengan anggota yang lain. Saya yang mengajak mereka bekerja, sementara sampai sekarang pembayaran dari kontraktor belum ada. Kami mau membayar mereka pakai apa,” keluhnya.
Ia menambahkan, persoalan tersebut juga mulai berdampak pada kebutuhan sehari-hari para pekerja. Sejumlah utang di warung, kata dia, sudah mulai ditagih karena para pekerja belum menerima upah.
Arifin mengungkapkan, para pekerja sebelumnya berupaya menyelesaikan pembangunan dengan penuh semangat karena ingin ikut menyukseskan program strategis pemerintah. Mereka bekerja untuk mengejar penyelesaian pembangunan gedung agar dapat digunakan sesuai peruntukannya.
“Sedihnya, kami sudah bekerja dengan semangat, bahkan mengejar waktu agar pembangunan KDMP ini selesai tepat waktu dan tepat mutu. Namun setelah pekerjaan selesai, justru meninggalkan persoalan seperti ini. Sudah lebih dari dua bulan, sampai sekarang pembayaran belum kami terima,” ungkapnya.
Ia berharap ada penyelesaian terhadap persoalan tersebut sehingga hak para pekerja lokal dapat segera dibayarkan.
“Kami kalau sudah seperti ini harus mengadu kepada siapa? Kepala desa sudah kami sampaikan dan katanya akan membantu sebagai mediator, tetapi sampai sekarang belum ada kepastian,” katanya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor yang disebut oleh pekerja sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembayaran upah belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi kepada pihak terkait masih dilakukan untuk mendapatkan penjelasan mengenai persoalan pembayaran upah pekerja tersebut.RBR